Sketsa Hati

3 03 2009

Aku merenung, semalam, dalam gelap aku berbaring di atas lantai dingin dan menyandarkan kepala di sisi tempat tidur. Mataku menerawang dalam remang, semua menjelma dalam balutan kisah yang suram. Seminggu yang lalu, sebulan yang lalu, atau mungkin setahun yang lalu, satu persatu, teman, sahabat, karib, silih berganti berbahagia dalam indahnya pernikahan. Mereka merangkai senyum terindah, angan terindah, dan mungkin mimpi-mimpi terindah mereka. Dan aku, selalu mencoba untuk tersenyum dalam bahagia mereka, tentu dengan sejuta rasa yang terpendam dalam dada.

Tak kusadari, kini sebagian mimpiku telah lenyap, telah hilang, atau mungkin telah menjelma menjadi sebuah kehampaan. Kusadari betapa banyaknya harapan yang telah mereka sandarkan kepadaku sebagai anaknya, tanpa mereka sadari betapa harapan itu justru telah menjadi duri dalam dagingku, yang terus setia menusuk lembut sisi batinku. Baca entri selengkapnya »








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.