Mulutku tengah terkunci, kaku membebani pikir. Aku tengah terbangun di malam sunyi, mendadak merasa tersudut, merasa takut, merasa kecil tak berarti. Lantas, kenapa kenangan begitu silih berganti menghantui, begitu senang mengusik kedalaman cita yang telah aku rancang dengan bijaksana. Kemudian aku seperti kehilangan masa depan, seperti dihadapkan kepada lingkaran hitam yang menghadang jalanku.
Getir, sakit, dan pilu, merenangi hidup, menapak jelas dalam kisaran kebekuan nanar tatapan mata ini. Aku hanyalah sesosok kerdil yang mencari bahagia, dan jika telah kupeluk sebongkah bahagia itu, hendak kubagi bahagia itu untukmu, untuknya, untuk mereka. Tapi takdir tentulah lain berbicara, meski aku bersimpuh mencium tanah, atau merangkak menggapainya, tentu hanyalah Dia yang berhak atas segala jalan yang telah ditentukan. Aku tak lain hanyalah sesosok kerdil yang mencari bahagia. Baca entri selengkapnya »



coment-coment