Mulutku tengah terkunci, kaku membebani pikir. Aku tengah terbangun di malam sunyi, mendadak merasa tersudut, merasa takut, merasa kecil tak berarti. Lantas, kenapa kenangan begitu silih berganti menghantui, begitu senang mengusik kedalaman cita yang telah aku rancang dengan bijaksana. Kemudian aku seperti kehilangan masa depan, seperti dihadapkan kepada lingkaran hitam yang menghadang jalanku.
Getir, sakit, dan pilu, merenangi hidup, menapak jelas dalam kisaran kebekuan nanar tatapan mata ini. Aku hanyalah sesosok kerdil yang mencari bahagia, dan jika telah kupeluk sebongkah bahagia itu, hendak kubagi bahagia itu untukmu, untuknya, untuk mereka. Tapi takdir tentulah lain berbicara, meski aku bersimpuh mencium tanah, atau merangkak menggapainya, tentu hanyalah Dia yang berhak atas segala jalan yang telah ditentukan. Aku tak lain hanyalah sesosok kerdil yang mencari bahagia. Baca entri selengkapnya »
Ah…sekiranya aku bisa, ingin seketika ada pada ruang yang membawa angan dan mimpi menjadi indah dirasa. Sejenak ingin ku putar selaksa waktu yang telah menempa batin dan jiwa ini hingga entah menjadi apa kini…apakah rapuh, atau justru malah lebur, entahlah. Aku memang tak sesempurna yang kau kira. Bahkan mungkin jauh lebih dari yang kau bayangkan, tak jauh lebih baik dari orang-orang yang membuatmu berfikir lain dengan apa yang dilakukannya. Aku hanyalah insan biasa yang juga punya banyak kekurangan. Meski kadang, ada pada saatnya, aku sekedar hanya ingin merasakan indah cinta pada waktunya, atau sekedar hanya ingin berbagi rasa sayang pada tempatnya.


coment-coment