Aku hanyalah sesosok kerdil yang mencari bahagia

27 10 2009

aloneMulutku tengah terkunci, kaku membebani pikir. Aku tengah terbangun di malam sunyi, mendadak merasa tersudut, merasa takut, merasa kecil tak berarti. Lantas, kenapa kenangan begitu silih berganti menghantui, begitu senang mengusik kedalaman cita yang telah aku rancang dengan bijaksana. Kemudian aku seperti kehilangan masa depan, seperti dihadapkan kepada lingkaran hitam yang menghadang jalanku.

Getir, sakit, dan pilu, merenangi hidup, menapak jelas dalam kisaran kebekuan nanar tatapan mata ini. Aku hanyalah sesosok kerdil yang mencari bahagia, dan jika telah kupeluk sebongkah bahagia itu, hendak kubagi bahagia itu untukmu, untuknya, untuk mereka. Tapi takdir tentulah lain berbicara, meski aku bersimpuh mencium tanah, atau merangkak menggapainya, tentu hanyalah Dia yang berhak atas segala jalan yang telah ditentukan. Aku tak lain hanyalah sesosok kerdil yang mencari bahagia. Baca entri selengkapnya »





Sekiranya…

8 06 2009

sekiranyaAh…sekiranya aku bisa, ingin seketika ada pada ruang yang membawa angan dan mimpi menjadi indah dirasa. Sejenak ingin ku putar selaksa waktu yang telah menempa batin dan jiwa ini hingga entah menjadi apa kini…apakah rapuh, atau justru malah lebur, entahlah. Aku memang tak sesempurna yang kau kira. Bahkan mungkin jauh lebih dari yang kau bayangkan, tak jauh lebih baik dari orang-orang yang membuatmu berfikir lain dengan apa yang dilakukannya. Aku hanyalah insan biasa yang juga punya banyak kekurangan. Meski kadang, ada pada saatnya, aku sekedar hanya ingin merasakan indah cinta pada waktunya, atau sekedar hanya ingin berbagi rasa sayang pada tempatnya.

Biarlah, saat-saat itu menjadi bagian masa lalu yang telah mewarnai penggalan kisah hidup ini. Mungkin, sekiranya saja aku masih berkesempatan untuk kembali pada saat itu, sekira masih ada kesempatan untuk meminta kepada-Nya, aku ingin sesuatu yang terbaik untuk semuanya, hingga ku berharap, kini atau esok, aku tak terjaga lagi dari mimpi buruk yang mendera. Baca entri selengkapnya »





Menakar Cinta

14 03 2009

Aku sedang menakar cinta, mereka-reka waktu yang terus bergulir dengan berjuta rencana, mengurai mimpi, membasuh semua luka hati dengan senyum termanis yang aku bisa torehkan hari ini, karena Dia, tentu selalu ada bersama kita.

Aku masih terus berharap, memutar pikiran untuk terus berbuat. Berbuat sesuatu yang aku yakin akan bisa berguna. Lebih baik. Lebih bijaksana. Karena Dia, tentu senang dengan hambanya yang kian hari kian memupuk semangat hati untuk menjadi seorang pembelajar. Bahwasannya hidup adalah sebuah persinggahan sementara dalam menggapai kekekalan yang lebih nyata.

Baca entri selengkapnya »





Sketsa Hati

3 03 2009

Aku merenung, semalam, dalam gelap aku berbaring di atas lantai dingin dan menyandarkan kepala di sisi tempat tidur. Mataku menerawang dalam remang, semua menjelma dalam balutan kisah yang suram. Seminggu yang lalu, sebulan yang lalu, atau mungkin setahun yang lalu, satu persatu, teman, sahabat, karib, silih berganti berbahagia dalam indahnya pernikahan. Mereka merangkai senyum terindah, angan terindah, dan mungkin mimpi-mimpi terindah mereka. Dan aku, selalu mencoba untuk tersenyum dalam bahagia mereka, tentu dengan sejuta rasa yang terpendam dalam dada.

Tak kusadari, kini sebagian mimpiku telah lenyap, telah hilang, atau mungkin telah menjelma menjadi sebuah kehampaan. Kusadari betapa banyaknya harapan yang telah mereka sandarkan kepadaku sebagai anaknya, tanpa mereka sadari betapa harapan itu justru telah menjadi duri dalam dagingku, yang terus setia menusuk lembut sisi batinku. Baca entri selengkapnya »





sebentuk cinta, segenap harap, setulus hati, untukmu

11 02 2009

Kelak akan kumengerti sebuah perjalanan ini. Perjalanan yang kini membawaku pada berjuta kisah, pada berjuta kesempatan, juga pada berjuta pembelajaran hidup. Sungguh aku sangat bersyukur, karena pada perjalanan itu, Ia telah menunjukkan keMaha Besaran-Nya lewat bait-bait kehidupan yang membawaku semakin bijak menyikapinya. Menyikapi bahagia, duka, dan hal-hal yang mungkin saja meruntuhkan semangat juangku.

Sedikit demi sedikit, seiring waktu, usia telah menapaki kerentaannya. Diakui atau tidak, helaan nafas, denyutan nadi, dan degupan jantung ini kian nyata menyibak takaran usia yang tak lagi muda, karena ia telah tergores waktu yang membawa beragam kisah hingga menapak jelas di antara guratan wajah. Tentu banyak hal yang aku rasa telah membuat aku memahami jika “kedewasaan adalah sebuah pilihan, namun kerentaan (tua) merupakan sebuah kepastian”. Baca entri selengkapnya »








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.